Tuhan Jalanan

Jadi sudah berapa manusia yang kau hakimi atas nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang?

Sudah berapa nafas yang kau kutuk karena kau dengannya berada di jalan yang berbeda?

Sudah berapa luas jaminan surga yang kau terima atas persekusi yang lagi-lagi kau bawa atas nama Tuhan untuk dilakukan?

Ntahlah.. karena semua hanya tuhan, dan Tuhan yang Maha Tau

Agomo impor kabeh we kemaki

Iklan

In the darkest off place, she is alone

Bagaimana ngga heran memahami rupa warna emosi yang terbangun dalam diri manusia. Kau bisa saja mendapati dirinya menggila di pagi hari. Dengan sisa riuh tawanya mungkin masih menggema dalam ingatan. Sedang siangnya, ia justru menangis meraung-meraung tanpa sebab nyata. Yang tanpa kau ketahui, di balik kecil tempurung kepalanya ia sedang bertarung sendiri.

Hidup emang kadang selucu itu

Nggambleh

Talk, talk, talk : the utter and heartbreaking stupidity of words – William Faulkner

1. Sepanjang jalannya hidup, baru kali ini saya percaya yang namanya butterfly effect. Siapa yang tahu langkah kecil semacem dilema ngupil pake kelingking atau telunjuk bisa nentuin kemana nantinya pergi, mau ngapain, atau tiba-tiba bisa ngerubah dunia. Ya.. walaupun ngga se-ekstrim itu, tapi cukup dibikin kagum kalau mungkin waktu itu saya ngga iseng nganter temen ke salah satu stan ukm kampus, mungkin sampai detik ini saya masih rebahan di kasur sembari scroll akun alter ego sampai dini hari.

.

2. Gambaran Tuhan ada dimana-mana itu benar adanya. Kita ngga perlu lagi pusing-pusing menghafalkan nama malaikat utusan Tuhan dan tugas yang diembannya. Cobalah berteman dengan mereka yang baru saja “mengaku pindah” dan segala konten reminder ala-ala yang mereka ciptakan sendiri. Pun hanya sejengkal gerakmu yang berbeda, vonis surga neraka dan segala amalanmu akan jatuh saat itu juga.

.

3. Berbicara tentang dunia maya memang tiada habisnya. Di era ini, semakin sulit membatasi privasi ‘hidup’ dumay dan kehidupan nyata. Cara pandang dalam membedakan kisah fiktif dengan kenyataan semakin mengabur, kebohongan sudah menjadi asupan. Tak ubahnya keberpihakan, bak lauk pauk sebuah santapan. Apalagi yang kita namakan ‘rekam jejak’. Setitik keteledoranmu, bukan hanya membuat netijen memberimu pelajaran, tapi info hidupmu dari nol pula kan digali demi memperkuat argumen dan bukti. Ngeri? Sudahlah, tutup saja akun-akunmu yang tidak berguna itu dan bergabunglah dengan anonim depresi seperti kami

Batasan Manusiawi

Untuk kesekian kali suporter klub sepak bola tewas, usai dihajar sekumpulan oknum pendukung klub lawan—kurang lebih begitu, tagline pembuka setiap isi fokus berita di beberapa situs pewarta online. Dan masih dalam berita dan kasus yang sama, mereka sering kali bisa dijumpai hampir dimanapun dan kapanpun dalam platform sosial media, yang seolah-olah mengingatkan bahwa empati kini benar-benar hilang di tengah masyarakat sekarang.

Anak muda yang malang itu bisa jadi salah satu contoh dari semakin banyaknya kasus dimana kemanusiaan akan terus tertantang seiring pergeseran jaman. Perkelahian, permusuhan, dan ketidak pedulian mungkin terlihat lebih manusiawi dari segi pandang “mereka” yang kian hari merasa berada dalam satu golongan yang lebih unggul daripada sesamanya.

Empati dan parameter manusiawi kelak hanya akan menjadi sebuah teori ketika mereka hanya digerakkan melalui suara petinggi, pemuka, atau seorang publik figur yang dengan sebatas kekuatan jempolnya mempopulerkan video seseorang yang mati di tangan sebuah kerumunan arogan yang bar-bar. Lalu bagaimana dengan tetangganya? Bagaimana mereka yang hanya menyaksikan hingga matinya? Bagaimana dengan kerumunan lain disekitarnya hingga empati kini harus dicari tak peduli sejauh mana ia harus kembali?

Fenomena pergeseran emosi ini tanpa kita sadari sudah tertanam pada kita pada waktu-waktu tertentu yang kita sendiri tidak tahu. Pengalamanku sendiri contohnya, ketika memasuki gerbang perkuliahan salah satu fakultas, seorang petinggi mahasiswa dan kerumunannya dengan lantangnya menyerukan jargon “fakultas xx bersatu, tak bisa dikalahkan” tapi dalam realitanya mereka hanya sekumpulan orang bermulut besar yang nongkrong di sana-sini yang memperlihatkan kekuatannya atas status senior dan kurang peduli dengan kawannya ataupun kerabatnya sendiri yang jaraknya begitu dekat dan mungkin dalam keadaan terdesak. Sebuah ironi yang nyatanya terjadi di kehidupan kita.

Sangat sulit menghilangakan konseptual atas karakteristik dari suatu kerumunan seperti yang dipaparkan Gustave Le Bon dalam bukunya The Crowd : Study of the Popular Mind (membahas 3 karakteristik kerumunan : anonimitas, ketidaksadaran dan efek menular). Dan sepengetahuanku, manusia tidak hanya mewarisi gen, namun juga kebencian, rasa tidak peduli dan tak mau tahu juga berhasil diwariskan dengan caranya sendiri. Hingga suatu saat akan membesar melalui kerumunan yang lebih kecil hingga ke kerumunan yang lebih besar.

Tapi akankah kita mau untuk terus hidup dengan empati yang kian hari kian terkorosi? Atau memulai dengan kesadaran pribadi untuk tidak mengabaikan orang-orang disekitar kita?

Sudahlah, semoga saja di masa depan empati bukan lagi menjadi utopia yang hanya dibayangkan manusia, tetapi sebagai identitas dan pengingat bahwa mereka memang diciptakan sebagai makhluk mulia.

The Drunk

Jika kau percaya saja, bahwa tangan-tangan Tuhan ada dimana-mana, maka semuanya akan baik-baik saja. Beberapa kali yang kuseduh tidak hanya kopi, tapi juga bir. Bir yang aku nikmati kemarin, adalah bir berbusa di tengah sunyi dan kesakitan-kesakitan setiap hari. Tapi tetap nikmat saja, karena suatu kali seseorang pernah datang lalu mengatakan bahwa Tuhan juga bersemayam dalam bir. Entah, aku tidak terlalu hirau. Yang aku butuhkan hanya hangat dari sesak dan kesesakan dadaku – Pesanan Setelah Bir, SanaveroW from book : Perempuan Yang Memesan Takdir



Tell Me to Stop

She is standing on bridge cringing what will happen if she took one side of life with walking by

But the sun will always be staying up there, with the bright passes on fluffy clouds

And so, the world remains the same of her side

She screamed out loud scratching the air with all passions she had

And the desire of she wants the most

But nothing happens and the fools judging on the moment

After all of the causes, she believes in on

She just standing over there

Swallowing the dark that hitting on her all the time

And she’s still doing nothing

Doing nothing

black-and-white-girl-hair-photography-Favim.com-861527

Topeng

Bersembunyi diantara topeng dengan standar sosial yang dilabeli orang dengan kata normal beneran cukup melelahkan. Perlahan saya cukup muak dengan kepura-puraan yang saya ciptakan sendiri untuk diterima masyarakat banyak. Pemikiran saya terhadap suatu hal memang sering kali enggak saya bataskan pada satu sudut pandang, karena bukankah manusia diciptakan Tuhan untuk berpikir dengan rasio tanpa batas-batas tertentu? Hingga belajar menjadi bodo amat akan sangat saya butuhkan untuk tetap hidup tanpa memberi makan mulut tetangga kelak. Dan bagaimanapun, saya tidak akan menutup perubahan apapun pada segala aspek yang mungkin terjadi di hidup saya. Namun satu yang saya yakini, saya akan tidak akan pernah berhenti berpikir sebebas-bebasnya dengan pikiran yang digelayuti pertanyaan-pertanyaan tak terbatas, karena dengan begitulah bagaimana manusia dapat mengenali dirinya sendiri dan segala sisi tentang kemanusiaannya.

Biarpun segilintir orang tetap akan melabeli dan bahkan phobia dengan saya, ataupun free-thinker lainnya. Tidak apa. Masa bodoh saya dengan orang-orang yang berhemat dalam berpikir. Semoga Tuhan mengampuni mereka yang saling mengkofar-kafirkan orang lain karena tidak sejalan dengan egonya.

maxresdefault.jpg

 

Kebisingan Layak Didengar

Seseorang di meja rias,
Ia amati sendiri wajahnya di balik cermin usang
Di sela sudut rupa, dihinggap warna-warni polesan warna
“Ini nggak murah, ada harga yang kubayar untuk tiap goresnya”
Dan tubuhnya, mengiyakan tuturnya

Seseorang di depan tungku api,
Tangannya yang mungil sibuk saban hari
Meracik pangan, untuk disuapkan pada anak dan suami
“Makanlah ini, agar taburan penyedap tak sia-sia jadi emosi”
Dan sayurannya, mengiyakan tuturnya

Seseorang di atas ranjang kamar
Tubuhnya menggeliat, dan derit kasur serupa nyanyian malam
Tangan-tangan hinggap di pucuk payudara, lelaki itu menyatapnya
“Jika benih pun tak berbuah, matilah aku jadi gara-garanya”
Dan mertuanya, mengiyakan tuturnya
Lalu pada sempitnya gerak seseorang itu pada dunia, ia bertanya pada duduk salahnya

Dan lelaki itu menjawab, sambil tertawa

“karena kamu adalah perempuan”

Menjadi Berbeda

Bukankah kodrat setiap manusia yang dilahirkan adalah menjadi dia yang sepribadi-pribadinya? Memang bukan perkara yang cukup rumit, namun pertanyaan ini kerap kali mengganggu saya setiap menentukan pilihan. Sering kali saya dianggap aneh karena mempunyai ketertarikan ‘yang tidak biasa’ dan pemikiran yang nyeleneh baik di lingkungan keluarga ataupun masyarakat. Padahal sejatinya apa yang saya pilih, sama sekali tidak merugikan pihak manapun karena saya selalu terbuka untuk setiap kritik dan masukan. Namun yang saya herankan adalah bagaimana orang-orang normal itu melabeli ‘mereka’ yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Sungguh tidak bijak kalau menilai sesuatu itu paling benar hanya karena diikuti banyak orang. Lantas berapa ukuran paten yang membedakan mutlak/tidaknya suatu asumsi itu?

Para peneliti, sebelum melakukan penelitian selalu berasumsi dari rumusan masalah yang kemudian dibuktikan menjadi suatu asumsi yang ilmiah. Walaupun dalam penelitiannya melahirkan bukti, akan tetap ada penelitian yang sama namun melahirkan bukti yang berbeda. Karena itu kebenaran adalah suatu asumsi yang mempunyai tolok ukur yang berbeda di setiap pribadi orang.

Bahkan menjadi berbeda bukanlah perkara yang mudah. Seperti Munir, yang berakhir dengan meregang nyawa karena berani menyuarakan ketidak-adilan dimana saat itu yang lain hanya ‘nrimo-nrimo wae’. Dan hal yang menjadikan sulitnya menjadi berbeda adalah stigma yang melabeli kita ‘aneh/tidak wajar atau bahkan gila’. Mereka selalu menuntut setiap orang sama saat kita berfikir berbeda. Padahal di sini kita tetap pada aturan, selama kita mendekati perintah dan menjauhi larangan. Sehingga stigma itu sendiri adalah salah.

Untuk itu belajarlah menghargai perbedaan walau dalam hal sekecil apapun selama tetap taat pada aturan. Saya adalah saya sendiri dan anda adalah anda sendiri. Tapi saya tidak bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah karena saya tidak berhak menentukan kebenaran yang mutlak, begitu pula anda. You can create a peaceful world, when you’re not an asshole 🙂

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑