Batasan Manusiawi

Untuk kesekian kali suporter klub sepak bola tewas, usai dihajar sekumpulan oknum pendukung klub lawan—kurang lebih begitu, tagline pembuka setiap isi fokus berita di beberapa situs pewarta online. Dan masih dalam berita dan kasus yang sama, mereka sering kali bisa dijumpai hampir dimanapun dan kapanpun dalam platform sosial media, yang seolah-olah mengingatkan bahwa empati kini benar-benar hilang di tengah masyarakat sekarang.

Anak muda yang malang itu bisa jadi salah satu contoh dari semakin banyaknya kasus dimana kemanusiaan akan terus tertantang seiring pergeseran jaman. Perkelahian, permusuhan, dan ketidak pedulian mungkin terlihat lebih manusiawi dari segi pandang “mereka” yang kian hari merasa berada dalam satu golongan yang lebih unggul daripada sesamanya.

Empati dan parameter manusiawi kelak hanya akan menjadi sebuah teori ketika mereka hanya digerakkan melalui suara petinggi, pemuka, atau seorang publik figur yang dengan sebatas kekuatan jempolnya mempopulerkan video seseorang yang mati di tangan sebuah kerumunan arogan yang bar-bar. Lalu bagaimana dengan tetangganya? Bagaimana mereka yang hanya menyaksikan hingga matinya? Bagaimana dengan kerumunan lain disekitarnya hingga empati kini harus dicari tak peduli sejauh mana ia harus kembali?

Fenomena pergeseran emosi ini tanpa kita sadari sudah tertanam pada kita pada waktu-waktu tertentu yang kita sendiri tidak tahu. Pengalamanku sendiri contohnya, ketika memasuki gerbang perkuliahan salah satu fakultas, seorang petinggi mahasiswa dan kerumunannya dengan lantangnya menyerukan jargon “fakultas xx bersatu, tak bisa dikalahkan” tapi dalam realitanya mereka hanya sekumpulan orang bermulut besar yang nongkrong di sana-sini yang memperlihatkan kekuatannya atas status senior dan kurang peduli dengan kawannya ataupun kerabatnya sendiri yang jaraknya begitu dekat dan mungkin dalam keadaan terdesak. Sebuah ironi yang nyatanya terjadi di kehidupan kita.

Sangat sulit menghilangakan konseptual atas karakteristik dari suatu kerumunan seperti yang dipaparkan Gustave Le Bon dalam bukunya The Crowd : Study of the Popular Mind (membahas 3 karakteristik kerumunan : anonimitas, ketidaksadaran dan efek menular). Dan sepengetahuanku, manusia tidak hanya mewarisi gen, namun juga kebencian, rasa tidak peduli dan tak mau tahu juga berhasil diwariskan dengan caranya sendiri. Hingga suatu saat akan membesar melalui kerumunan yang lebih kecil hingga ke kerumunan yang lebih besar.

Tapi akankah kita mau untuk terus hidup dengan empati yang kian hari kian terkorosi? Atau memulai dengan kesadaran pribadi untuk tidak mengabaikan orang-orang disekitar kita?

Sudahlah, semoga saja di masa depan empati bukan lagi menjadi utopia yang hanya dibayangkan manusia, tetapi sebagai identitas dan pengingat bahwa mereka memang diciptakan sebagai makhluk mulia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: