Untuk Mama

Ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu Ma, yang tak bisa kuucap karena tak sampai hati.

Sekiranya depresi bukan suatu yang sia-sia, hanya ia yang kumiliki. Sejumput emosi walau sifatnya menghabisi. Lebih baik dari mereka yang lalu-lalang pergi, pura-pura simpati dan menaruh hati.

Masih ingatkah Mama pada Basio? Lakon cerpen Mas Agus Noor yang diceritakan pada malam sastra itu. Tak bedanya ia pada keadaanku kini. Tak bisa tertawa pula tak bisa juga sedih. Ya, aku sudah sampai pada suwung-Ku Ma. Bila suatu nanti ku jemput sendiri waktuku, tolong relakan aku.

Bukan maksud tak kuat agama, bukan juga maksud tak sayang pada keluarga. Ketahuilah ma, rasa sayangku pada mereka adalah bulir doa yang tiap hembusan kupanjatkan pada-Nya. Hanya saja, rasa sayangku sedikit berlebihan.

Aku tau mereka, bahkan Mama pribadi menganggapku nyeleneh, kurang waras seperti yang Mama cakap padaku pagi itu. Aku pun heran Ma, bisa menjadi penikmat kata tanpa diwarisi dna. Ilmu awang-awang itu jelas tidak bisa menghantarkan aku pada status jutawan, sekedar bisa makan saja sudah menjadi kenikmatan.

Untuk itu Mamaku sayang, sekiranya ku memilih menghentikan waktuku adalah karena aku memilih untuk tidak menjadi beban. Wong hidup saja menyusahkan, tidak bisa jadi panutan untuk adik tersayang. Belum pula dikatai tidak waras, pulang pergi hanya konsultasi pada ahli kejiwaan. Padahal hanya sekedar mencari suatu yang indah dari kenyataan, berjuang melepas jerit pesakitan.

Sekiranya hanya itu Ma, yang ingin kusampaikan. Aku minta maaf, tidak bisa lancar bercakap di depanmu. Karena lidah ini tidak mudah menghapus yang sudah dimuntahkan, maka lebih mudah menulis untukku. Hanya satu pesanku Ma, tahan mereka yang senasib denganku. Jangan biarkan mereka membenci hidup hanya karena tak kuat disentil Tuhan. Katakan padanya, mereka luar biasa juara. Jangan pula kau berikan mereka ‘refreshing’. Tak sanggup mereka mencerna kebahagiaan sesaat. Karena yang ku tahu dari hidupku, sebatas kalimat dorongan dan dukungan adalah luar biasa pengaruhnya. Dan untuk kawanku yang berhasil ku tahan, terimakasih telah melanjutkan. Yakinkan Mamaku untuk nanti bisa melepaskan.

Iklan

Welcome 2018

The real reason why human life can be so utterly exasperating and frustrating is not because there are facts called death, pain, fair or hunger. The madness of the things is that when such facts are present, we circle, buzz, writhe, and whril trying to get “I” out of the experience. We pretend that we are amoebas, and try to protect ourselves from life by splitting in two. Sanity, wholeness, and integration lie in the realization that we are not divided, that man and his present experience are one, and that no separate “I” or mind can be found.

To understand music, you must listen to it. But so long as you are thinking, “I am listening to this music, “you are not listening.”

 –   Alan Watts, The Wisdom of Insecurity

Aku Sedang Ingin Berbicara Omong Kosong

 Sebagaimana telah kutulis habis monolog ini, aku tahu ini takkan pernah terbaca. Dan sedang kini diammu, kuanggap saja sebagai bentuk mengiyakan. Adalah aku, kuberitahu. Aku hanya belum bisa berkata dengan apa yang kau anggap benar. Sebuah kesalahan di masa lalu tanpa sengaja tertanam dalam diriku menjadi bahasa dari ketakutan yang mungkin kau takkan pernah tahu. Kala itu, ketika kau memintaku untuk berbicara, namun tak sekalipun kau dengar, ketika kau meminta untuk menggunakan seluruh kata yang kupunya, kau menganggapku berbeda hanya karena menempatkannya pada kertas ketimbang lisan, dan ketika kau memintaku untuk memahami apa maumu tanpa kau sendiri pahami apa mauku. Sesekali aku ingin membela diri. Bahwa kau harus mengerti, apabila kelak aku memilih pergi dan berdiam diri adalah timbal balik dari sebab-akibat yang kau ciptakan sendiri. Mungkin dengan begini kau sedikit tahu, tentang keadaanku yang kelak sulit kau tebak akhir muaranya. Untuk itu maafkanlah aku. Maafkanlah aku, dan segala kekacauanku. Maafkanlah omong kosongku dengan bahasa yang kau takkan mungkin pernah tahu.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑